Ulangan semester II yang telah di jalan kan Vira saat ini
terasa sulit. Ia harus mempertahankan namanya untuk tetap berada
di kelas A. Namun, Vira mendapat sedikit penyemangat dari
cowok yang sudah lama namanya tersimpan di hatinya. Ya. Dia
Radit. Saat hari-hari meneganggakan selama ulangan itu berakhir,
hati Vira lega. Namun, perasaan takutnya belum hilang. Ia
masih menunggu hasil ulangan itu, apakah Ia remedial atau
tidak. Selama seminggu ia menunggu pengumuman remedial, Vira
berharap ia tidak mendapatkan satu pelajaran pun yang remedial.
Tiit , tiIt , tiit, tiit…..Saat malam hari ketika Vira sedang
memainkan gitar kesayangannya, handphonenya berbunyi. Mendengar
suara sms dari handphonenya, Vira lalu mengambil dan membaca
isi pesan tersebut. Nomor tanpa nama dan tidak di kenal di
dalam kontak hpnya, Vira bingung. Isi pesan tersebut hanya
bertanya “sory, ini nomornya Vira, bukan?” melihat nomor tak di
kenal itu, Vira bingung dan tidak membalas pesan tersebut.
Keesokan harinya, Ia bertanya kepada teman sebangkunya.
“May, kamu tau nomor ini enggak?” Tanya Vira kepada Maya.
“Ini nomor Radit, Vir,” jawabnya sambil melihat nomor itu dengan teliti.
Tak berapa lama kemudian, handphone Vira berbunyi.
Seketika itu juga Radit sms Vira. Pesan itu berisi “sorry,
Ini nomornya Vira, bukan?” pesan itu sama seperti pesan yang
tadi malam di nomor yang sama. Setelah Vira mengetahui nomor
itu adalah nomor Radit, Vira meresa senang d dan menanggapi
pesan itu dengan baik dan ramah.
Mungkin Vira telah jatuh cinta kepada Radit.
Setiap hari, Vira selalu menunggu sms dari Radit. Namun, hati
Vira yang sedang berbunga karena sedang dekat dengan Radit
tidak bisa di gabungkan dengan keadaan Vira. Usianya yang baru
14 tahun dan masih duduk di bangku SMP belum memenuhi syarat
pacaran dari orang tuanya. Vira bingung, ia tidak ingin
membohongi orang tuanya, tapi ia juga tidak bisa membohongi
perasaannya. Keesokan harinya Vira bertemu dengan Radit. Senyum
kecil di bibir Radit membuat Vira yakin bahwa Radit juga
menyimpan rasa yang sama dengannya. Di mulai dari perhatian
dari Radit kepada Vira, sampai saat pertemuannya sekarang.
Saat pulang dari sekolah, Vira mendapat satu pesan
lagi dari handphonenya. Pesan itu ternyata dari Radit. Saat
Vira membaca pesan itu, kata demi kata ia baca, ternyata Radit
mengungkapkan isi hatinya lewat pesan itu. Radit menyatakan
cinta atau zaman sekarang disebut dengan tembak. Vira bingung
harus menjawab apa. Dalam hati ia sangat bahagia, tapi orang
tuanya menentang keras Vira berpacaran. Saat itu juga Vira
harus memutuskan pilihan yang benar, ia harus memilih untuk
tidak menerima cinta Radit daripada harus membohongi orang
tuanya. Rasa sedih , sakit, dan kecewa di rasakannya. Hatinya
hancur harus menolak cinta pertamanya. Orang yang selama ini
dia harapkan harus ia lepas begitu saja. Pertemanan Vira dan
Radit sekarang renggang. Mereka tidak pernah mengirim pesan
lewat ponsel atau bercanda gurau bila bertemu. Vira tidak
menyesal atas apa yang ia pilih, mengorbankan cinta pertamanya
untuk masa depannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar