Pagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku
masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk
tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan
pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan
kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA
123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat
aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak
tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata
bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku
diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk.
Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu
sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari
ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki
diriku sendiri.
Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki”
berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia
telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku.
Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku
duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah
masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja
sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku
sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami
diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal
mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain
tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya
gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk
apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku
dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.
Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal
segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di
juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2
dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau
sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di
buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah
marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku
masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak
jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku
doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh.
Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam
didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang
lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat
arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya.
Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti
keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku
kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai
lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah
ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo
dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok
kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa
lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset
aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena
mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di
sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan
kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo
sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius
nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa
kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”.
Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan
terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!
Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi
akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng
bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak
sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai
suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek
berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat
itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus
mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong
kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya
hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah
kami”,aku berdo’a khusyuk sekali.
Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk
rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut
melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini
ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit
apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak
kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke
elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue
ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup
kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah
sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya.
“Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo
karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa
bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena
penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena
penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin
sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T
sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi
hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan
penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka
liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan
buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok
yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu
mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini
kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku
sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan.
Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku
sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu
hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya
seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku
pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya
sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa
ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget
bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui
sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku
selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir
Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang
mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai
seorang Muslim
Minggu, 09 Maret 2014
PILIHAN VIRA
Ulangan semester II yang telah di jalan kan Vira saat ini
terasa sulit. Ia harus mempertahankan namanya untuk tetap berada
di kelas A. Namun, Vira mendapat sedikit penyemangat dari
cowok yang sudah lama namanya tersimpan di hatinya. Ya. Dia
Radit. Saat hari-hari meneganggakan selama ulangan itu berakhir,
hati Vira lega. Namun, perasaan takutnya belum hilang. Ia
masih menunggu hasil ulangan itu, apakah Ia remedial atau
tidak. Selama seminggu ia menunggu pengumuman remedial, Vira
berharap ia tidak mendapatkan satu pelajaran pun yang remedial.
Tiit , tiIt , tiit, tiit…..Saat malam hari ketika Vira sedang memainkan gitar kesayangannya, handphonenya berbunyi. Mendengar suara sms dari handphonenya, Vira lalu mengambil dan membaca isi pesan tersebut. Nomor tanpa nama dan tidak di kenal di dalam kontak hpnya, Vira bingung. Isi pesan tersebut hanya bertanya “sory, ini nomornya Vira, bukan?” melihat nomor tak di kenal itu, Vira bingung dan tidak membalas pesan tersebut. Keesokan harinya, Ia bertanya kepada teman sebangkunya.
“May, kamu tau nomor ini enggak?” Tanya Vira kepada Maya.
“Ini nomor Radit, Vir,” jawabnya sambil melihat nomor itu dengan teliti.
Tak berapa lama kemudian, handphone Vira berbunyi. Seketika itu juga Radit sms Vira. Pesan itu berisi “sorry, Ini nomornya Vira, bukan?” pesan itu sama seperti pesan yang tadi malam di nomor yang sama. Setelah Vira mengetahui nomor itu adalah nomor Radit, Vira meresa senang d dan menanggapi pesan itu dengan baik dan ramah.
Mungkin Vira telah jatuh cinta kepada Radit. Setiap hari, Vira selalu menunggu sms dari Radit. Namun, hati Vira yang sedang berbunga karena sedang dekat dengan Radit tidak bisa di gabungkan dengan keadaan Vira. Usianya yang baru 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP belum memenuhi syarat pacaran dari orang tuanya. Vira bingung, ia tidak ingin membohongi orang tuanya, tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Keesokan harinya Vira bertemu dengan Radit. Senyum kecil di bibir Radit membuat Vira yakin bahwa Radit juga menyimpan rasa yang sama dengannya. Di mulai dari perhatian dari Radit kepada Vira, sampai saat pertemuannya sekarang.
Saat pulang dari sekolah, Vira mendapat satu pesan lagi dari handphonenya. Pesan itu ternyata dari Radit. Saat Vira membaca pesan itu, kata demi kata ia baca, ternyata Radit mengungkapkan isi hatinya lewat pesan itu. Radit menyatakan cinta atau zaman sekarang disebut dengan tembak. Vira bingung harus menjawab apa. Dalam hati ia sangat bahagia, tapi orang tuanya menentang keras Vira berpacaran. Saat itu juga Vira harus memutuskan pilihan yang benar, ia harus memilih untuk tidak menerima cinta Radit daripada harus membohongi orang tuanya. Rasa sedih , sakit, dan kecewa di rasakannya. Hatinya hancur harus menolak cinta pertamanya. Orang yang selama ini dia harapkan harus ia lepas begitu saja. Pertemanan Vira dan Radit sekarang renggang. Mereka tidak pernah mengirim pesan lewat ponsel atau bercanda gurau bila bertemu. Vira tidak menyesal atas apa yang ia pilih, mengorbankan cinta pertamanya untuk masa depannya.
Tiit , tiIt , tiit, tiit…..Saat malam hari ketika Vira sedang memainkan gitar kesayangannya, handphonenya berbunyi. Mendengar suara sms dari handphonenya, Vira lalu mengambil dan membaca isi pesan tersebut. Nomor tanpa nama dan tidak di kenal di dalam kontak hpnya, Vira bingung. Isi pesan tersebut hanya bertanya “sory, ini nomornya Vira, bukan?” melihat nomor tak di kenal itu, Vira bingung dan tidak membalas pesan tersebut. Keesokan harinya, Ia bertanya kepada teman sebangkunya.
“May, kamu tau nomor ini enggak?” Tanya Vira kepada Maya.
“Ini nomor Radit, Vir,” jawabnya sambil melihat nomor itu dengan teliti.
Tak berapa lama kemudian, handphone Vira berbunyi. Seketika itu juga Radit sms Vira. Pesan itu berisi “sorry, Ini nomornya Vira, bukan?” pesan itu sama seperti pesan yang tadi malam di nomor yang sama. Setelah Vira mengetahui nomor itu adalah nomor Radit, Vira meresa senang d dan menanggapi pesan itu dengan baik dan ramah.
Mungkin Vira telah jatuh cinta kepada Radit. Setiap hari, Vira selalu menunggu sms dari Radit. Namun, hati Vira yang sedang berbunga karena sedang dekat dengan Radit tidak bisa di gabungkan dengan keadaan Vira. Usianya yang baru 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP belum memenuhi syarat pacaran dari orang tuanya. Vira bingung, ia tidak ingin membohongi orang tuanya, tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Keesokan harinya Vira bertemu dengan Radit. Senyum kecil di bibir Radit membuat Vira yakin bahwa Radit juga menyimpan rasa yang sama dengannya. Di mulai dari perhatian dari Radit kepada Vira, sampai saat pertemuannya sekarang.
Saat pulang dari sekolah, Vira mendapat satu pesan lagi dari handphonenya. Pesan itu ternyata dari Radit. Saat Vira membaca pesan itu, kata demi kata ia baca, ternyata Radit mengungkapkan isi hatinya lewat pesan itu. Radit menyatakan cinta atau zaman sekarang disebut dengan tembak. Vira bingung harus menjawab apa. Dalam hati ia sangat bahagia, tapi orang tuanya menentang keras Vira berpacaran. Saat itu juga Vira harus memutuskan pilihan yang benar, ia harus memilih untuk tidak menerima cinta Radit daripada harus membohongi orang tuanya. Rasa sedih , sakit, dan kecewa di rasakannya. Hatinya hancur harus menolak cinta pertamanya. Orang yang selama ini dia harapkan harus ia lepas begitu saja. Pertemanan Vira dan Radit sekarang renggang. Mereka tidak pernah mengirim pesan lewat ponsel atau bercanda gurau bila bertemu. Vira tidak menyesal atas apa yang ia pilih, mengorbankan cinta pertamanya untuk masa depannya.
Jangan Ulang Hari Itu
“Saatnya untuk bangun, sekarang jam 05.00 tepat, waktunya untuk bangun
!” Suara yang begitu nyaring terdengar dari jam weker yang terletak
disebelah telingaku. Terbangun aku dari tidur yang nyenyak, hujan yang
turun semalam masih meninggalkan hawa dingin yang membuatku enggan untuk
melepas selimut. Satu hal yang menguatkanku untuk bangun hari ini.
“Dia” yaah, cowok berpostur tinggi, hidung mancung, alis tebal, dengan
setelan jaket biru yang biasa ia kenakan, yang selalu menjeputku di
depan gang setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan Kian Al-Farabi, pangeran
tampan setampan romeo dan aku julietnya. Hahaha jelas saja aku berkata
seperti itu, sebab cowo cuek yang gak romantic itu adalah pacarku. Tak
ada satupun yang boleh mengejek pacar Iris Tantia, karena bagaimanapun
aku sayang padanya.
Setelah semuanya siap, seperti biasanya pukul 06.30 pagi. Aku sudah harus stand by di depan gang. Karena dia gak suka yang namanya nunggu, jadi aku harus buru-buru tiap paginya. Setelah 10 menit menunggu.
“Eh ayok !!!” ujar Kian menghampiriku.
“Aaah…iya sabar.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
Seperti biasanya aku langsung naik dan memegang erat jaket birunya itu. Aku dan dia selalu saja ngobrol disepanjang jalan, ntah apa-apa saja yang kami obrolkan akupun tidak tau, yang pasti bahan pembicaraan kami tidak ada habis-habisnya. Tapi hari ini aku heran, dia hanya diam saja dan berbicara seperlunya.
“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.
“Aku, gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya singkat.
“Ih, kamu kok diem aja daritadi?” ujarku
“Ya engga, aku cuman capek aja,” dijawabnya lagi dengan ekspresi datar.
Seperti biasa dia memarkirkan motornya paling depan. Setelah itu, kami jalan berdua menuju kelas masing-masing. Yaaah, aku dan dia beda kelas. Dia kelas XG sedangkan aku XE. Setelah 8 jam berada di sekolah, bell pun berdering kencang “kriiing..kriiing..kriing..” semua anak berhamburan keluar. Kurasakan hp di saku rokku bergetar, sudah kutebak pasti itu Kian. Sebuah pesan ingkat yang sudah tidak asing lagi ku terima.
“Kamu dimana? Ayok cepetan. Aku udah di parkiran.”
Dengan segera aku berlari dan meninggalkan teman-temanku. Sesampainya di parkiran aku langsung menuju kearahnya dan mengantarku pulang kerumah. Disepanjang jalan satu katapun tidak keluar baik dari mulutnya maupun dari mulutku. Aku bingung ada apa dengan dia.
Setiap magrib tidak lupa aku mengingatkannya untuk solat. Tapi aku heran, kenapa dia tidak membalasnya. Ketika aku sedang asik mendengar musik, tiba-tiba saja hpku bergetar. “Dreet..Dreet..” dengan segera aku mengambil hpku, karena ku tau itu pasti dia.
“Ris, ada kabar gak enak, kamu gak boleh sedih cukup aku yang sedih,” isi pesan singkatnya.
“Kamu kenapa? Ada apasih?” tanyaku penasaran.
“Aku mau pindah jauh ke Kalimantan.” Ujar Kian.
“Kamu bohong ya? Ah kamu becandanya basi.” Dengan segera aku membalasnya.
“Aku gak bohong Ris, ayah aku kemaren bilang. Kenaikan kelas. Satu bulan lagi aku pindah. Aku gak tega bilang ini ke kamu. Tapi mau gimana lagi, aku juga gak pengen gini.” Balasnya.
Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja, bersamaan dengan lepasnya handphone dari genggamanku. “ Ini mimpi apa kenyataan sih? Ih gilak semuanya gilak !!!” air mataku terus berjatuhan tanpa diperintah. Langsung ku ambil handphoneku di lantai, tanpa berfikir panjang aku langsung menelphonnya.
“Kamu bohongan gak sih? Jawab serius!” kata-kata yang keluar pertama kali dari mulutku.
“Iris, aku minta maap sama kamu, aku gak maksut buat kamu sedih.” Ujar Kian.
Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah katapun. Langsung ku non aktifkan hpku dan melemparnya jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku seperti kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badan ku terasa sangat lemah, dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada di genggamanku.
Pagi ini suara alarm kembali membangunkanku. Mataku terasa berat untuk dibuka, mungkin karena menangis semalam, sampai ku merasa kelopak mataku berat sekali seperti ditimpah batu gilingan cabe seberat 1 kg. ketika ku berkaca di cermin, langsung ku berlari ke kamar mandi dan mencuci mataku. Aku tak ingin dia tau kalau semalaman aku menangis.
Seperti biasanya kami berangkat bersama, tak ada satu katapun yang keluar saat itu. Karena aku berusaha menahan air mata yang selalu meronta ingin keluar. Aku pun selalu menundukkan kepalaku. Aku tak ingin dia melihat mataku yang bengkak ini. Ketika hampir sampai kelas aku mengajaknya berbicara.
“Kok pindah?” ujarku.
“Ayah pindah tugas.” Jawabnya singkat.
“Trus rumah kamu gimana?” ujarku penasaran.
“Di jual kata ayah,” jawabnya ringan.
Aku menggerutu dalam hatiku “ih,cowok ini enteng banget sih jawabnya, gak tau apa semaleman gua nyaris mati tenggelem di air mata!” Ketika sampai depan kelasnya, aku langsung lari dan menuju kelasku. Semua air mata jatuh tak tertahan lagi. Teman-temanku langsung menghampiriku, semua bertanya ada apa denganku.
Berat, Cuma itu yang sekarang ada di otakku. Dalam benakku, aku kesal sekali padanya. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Mata merah dan muka lusuh yang selalu terpasang di wajahku setiap harinya. Setiap malam, kebiasaan setiap harinya, selalu smsan dengan dia. Tidak lain sekarang yang dibahas yaaa tentang dia, kepindahannya, dan nasibku setelah itu. Satu hal yang menguatkanku ketika dia mengirimkan pesan singkat.
“Kamu tenang aja, dua taun lagi aku tunggu kamu di Jogja ya ris, kita kuliah disana. Kamu mau kan?”
Aku hanya bisa mengiyakan dan berharap dua tahun lagi itu jadi kenyataan. Tapi dua taun itu gak sebentar. Air mataku kembali menetes hingga ku terlelap dalam tidur dengan diiringi lagu Secondhand Serenade yang sama sekali tak kusukai awalnya. Tapi mungkin Stay Close Don’t Go lagu itu cocok dengan nasibku sekarang ini.
Aku membulatkan tanggalan di kalender untuk satu harinya. “Sebentar lagi” desahku sambil menghela nafas. Tentunya sisa waktu ini akan ku manfaatkan baik-baik. Aku dan Kian selalu kemana-mana berdua. Rasanya tak ingin bergeser satu detikpun dari sampingnya bila mengingat nanti mungkin tak seindah hari ini.
Di hamparan rerumputan dekat rumahku. Tempat biasa kami bersama. Ku rasakan kesejukan angin yang berhembus.
“Kalo kamu pindah nanti, kalo punya cewek baru jangan lupa sama aku ya Ki,” ujarku sambil memegang erat tangannya dan merebahkan kepalaku di pundaknya.
“Kalo aku pindah nanti, kamu gak boleh sama cowok laen ya, aku sayang kamu Ris. Janji ya !” jawabnya sambil menatap wajahku.
Percaya gak percaya mungkin dia masi bisa bilang sayang sekarang, tapi ntah untuk nanti. Buat LDR (Long Distance Relationship) sudah pasti dan kudu wajib ada yang bakal ngerasain sakit hati.
Hari ini, 16 Juni 2011, baju abu-abu yang melekat ditubuhku. Melengkapi kepucatan wajah dan beratnya mata yang menahan beban air ini. Aku berdiri di tengah keramaian. Yaaah.. hari ini aku berada di Bandara Radin Intan, sungguh akan menjadi tempat yang paling ku benci.
“Iris….,” ujar Kian.
Aku hanya menoleh dan tetesan air matapun tak bisa kutahan. Kudekap erat Kian dan aku sama sekali tidak ingin melepasnya.
“Aku sayang sama kamu. Kamu gak boleh pergi ! Bodok amat !” tak tahan lagi aku menahannya.
“Happy Anniversary 4 mounth sayang” ujarnya.
Aku baru sadar ternyata sudah 4 bulan kami bersama.
“Aku tunggu kamu di Jogja ya,” ujarnya kembali sambil perlahan melepaskan dekapanku.
“Aku mau kasih kamu ini, di pake ya Kian.”
Bungkusan kado berwarna merah berisi sweeter merah yang sudah lama kubelikan. Awalnya aku berniat akan memberikannya saat dia ulang tahun nanti. Langkah- langkah kecil itu membawanya pergi dan hilang dari penglihatanku. Sejenak kupejamkan mata dan suara pesawat itu membawanya pergi jauh dariku. Kisahku seperti sinetron yang tak pernah kuduga awalanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin menepati janji-janji itu sampai mengunggu dua tahun lagi kalaupun tuhan mempertemukan kami. Selamat datang kesendirian. Selamat datang kesedihan.
Setelah semuanya siap, seperti biasanya pukul 06.30 pagi. Aku sudah harus stand by di depan gang. Karena dia gak suka yang namanya nunggu, jadi aku harus buru-buru tiap paginya. Setelah 10 menit menunggu.
“Eh ayok !!!” ujar Kian menghampiriku.
“Aaah…iya sabar.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
Seperti biasanya aku langsung naik dan memegang erat jaket birunya itu. Aku dan dia selalu saja ngobrol disepanjang jalan, ntah apa-apa saja yang kami obrolkan akupun tidak tau, yang pasti bahan pembicaraan kami tidak ada habis-habisnya. Tapi hari ini aku heran, dia hanya diam saja dan berbicara seperlunya.
“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.
“Aku, gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya singkat.
“Ih, kamu kok diem aja daritadi?” ujarku
“Ya engga, aku cuman capek aja,” dijawabnya lagi dengan ekspresi datar.
Seperti biasa dia memarkirkan motornya paling depan. Setelah itu, kami jalan berdua menuju kelas masing-masing. Yaaah, aku dan dia beda kelas. Dia kelas XG sedangkan aku XE. Setelah 8 jam berada di sekolah, bell pun berdering kencang “kriiing..kriiing..kriing..” semua anak berhamburan keluar. Kurasakan hp di saku rokku bergetar, sudah kutebak pasti itu Kian. Sebuah pesan ingkat yang sudah tidak asing lagi ku terima.
“Kamu dimana? Ayok cepetan. Aku udah di parkiran.”
Dengan segera aku berlari dan meninggalkan teman-temanku. Sesampainya di parkiran aku langsung menuju kearahnya dan mengantarku pulang kerumah. Disepanjang jalan satu katapun tidak keluar baik dari mulutnya maupun dari mulutku. Aku bingung ada apa dengan dia.
Setiap magrib tidak lupa aku mengingatkannya untuk solat. Tapi aku heran, kenapa dia tidak membalasnya. Ketika aku sedang asik mendengar musik, tiba-tiba saja hpku bergetar. “Dreet..Dreet..” dengan segera aku mengambil hpku, karena ku tau itu pasti dia.
“Ris, ada kabar gak enak, kamu gak boleh sedih cukup aku yang sedih,” isi pesan singkatnya.
“Kamu kenapa? Ada apasih?” tanyaku penasaran.
“Aku mau pindah jauh ke Kalimantan.” Ujar Kian.
“Kamu bohong ya? Ah kamu becandanya basi.” Dengan segera aku membalasnya.
“Aku gak bohong Ris, ayah aku kemaren bilang. Kenaikan kelas. Satu bulan lagi aku pindah. Aku gak tega bilang ini ke kamu. Tapi mau gimana lagi, aku juga gak pengen gini.” Balasnya.
Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja, bersamaan dengan lepasnya handphone dari genggamanku. “ Ini mimpi apa kenyataan sih? Ih gilak semuanya gilak !!!” air mataku terus berjatuhan tanpa diperintah. Langsung ku ambil handphoneku di lantai, tanpa berfikir panjang aku langsung menelphonnya.
“Kamu bohongan gak sih? Jawab serius!” kata-kata yang keluar pertama kali dari mulutku.
“Iris, aku minta maap sama kamu, aku gak maksut buat kamu sedih.” Ujar Kian.
Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah katapun. Langsung ku non aktifkan hpku dan melemparnya jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku seperti kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badan ku terasa sangat lemah, dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada di genggamanku.
Pagi ini suara alarm kembali membangunkanku. Mataku terasa berat untuk dibuka, mungkin karena menangis semalam, sampai ku merasa kelopak mataku berat sekali seperti ditimpah batu gilingan cabe seberat 1 kg. ketika ku berkaca di cermin, langsung ku berlari ke kamar mandi dan mencuci mataku. Aku tak ingin dia tau kalau semalaman aku menangis.
Seperti biasanya kami berangkat bersama, tak ada satu katapun yang keluar saat itu. Karena aku berusaha menahan air mata yang selalu meronta ingin keluar. Aku pun selalu menundukkan kepalaku. Aku tak ingin dia melihat mataku yang bengkak ini. Ketika hampir sampai kelas aku mengajaknya berbicara.
“Kok pindah?” ujarku.
“Ayah pindah tugas.” Jawabnya singkat.
“Trus rumah kamu gimana?” ujarku penasaran.
“Di jual kata ayah,” jawabnya ringan.
Aku menggerutu dalam hatiku “ih,cowok ini enteng banget sih jawabnya, gak tau apa semaleman gua nyaris mati tenggelem di air mata!” Ketika sampai depan kelasnya, aku langsung lari dan menuju kelasku. Semua air mata jatuh tak tertahan lagi. Teman-temanku langsung menghampiriku, semua bertanya ada apa denganku.
Berat, Cuma itu yang sekarang ada di otakku. Dalam benakku, aku kesal sekali padanya. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Mata merah dan muka lusuh yang selalu terpasang di wajahku setiap harinya. Setiap malam, kebiasaan setiap harinya, selalu smsan dengan dia. Tidak lain sekarang yang dibahas yaaa tentang dia, kepindahannya, dan nasibku setelah itu. Satu hal yang menguatkanku ketika dia mengirimkan pesan singkat.
“Kamu tenang aja, dua taun lagi aku tunggu kamu di Jogja ya ris, kita kuliah disana. Kamu mau kan?”
Aku hanya bisa mengiyakan dan berharap dua tahun lagi itu jadi kenyataan. Tapi dua taun itu gak sebentar. Air mataku kembali menetes hingga ku terlelap dalam tidur dengan diiringi lagu Secondhand Serenade yang sama sekali tak kusukai awalnya. Tapi mungkin Stay Close Don’t Go lagu itu cocok dengan nasibku sekarang ini.
Aku membulatkan tanggalan di kalender untuk satu harinya. “Sebentar lagi” desahku sambil menghela nafas. Tentunya sisa waktu ini akan ku manfaatkan baik-baik. Aku dan Kian selalu kemana-mana berdua. Rasanya tak ingin bergeser satu detikpun dari sampingnya bila mengingat nanti mungkin tak seindah hari ini.
Di hamparan rerumputan dekat rumahku. Tempat biasa kami bersama. Ku rasakan kesejukan angin yang berhembus.
“Kalo kamu pindah nanti, kalo punya cewek baru jangan lupa sama aku ya Ki,” ujarku sambil memegang erat tangannya dan merebahkan kepalaku di pundaknya.
“Kalo aku pindah nanti, kamu gak boleh sama cowok laen ya, aku sayang kamu Ris. Janji ya !” jawabnya sambil menatap wajahku.
Percaya gak percaya mungkin dia masi bisa bilang sayang sekarang, tapi ntah untuk nanti. Buat LDR (Long Distance Relationship) sudah pasti dan kudu wajib ada yang bakal ngerasain sakit hati.
Hari ini, 16 Juni 2011, baju abu-abu yang melekat ditubuhku. Melengkapi kepucatan wajah dan beratnya mata yang menahan beban air ini. Aku berdiri di tengah keramaian. Yaaah.. hari ini aku berada di Bandara Radin Intan, sungguh akan menjadi tempat yang paling ku benci.
“Iris….,” ujar Kian.
Aku hanya menoleh dan tetesan air matapun tak bisa kutahan. Kudekap erat Kian dan aku sama sekali tidak ingin melepasnya.
“Aku sayang sama kamu. Kamu gak boleh pergi ! Bodok amat !” tak tahan lagi aku menahannya.
“Happy Anniversary 4 mounth sayang” ujarnya.
Aku baru sadar ternyata sudah 4 bulan kami bersama.
“Aku tunggu kamu di Jogja ya,” ujarnya kembali sambil perlahan melepaskan dekapanku.
“Aku mau kasih kamu ini, di pake ya Kian.”
Bungkusan kado berwarna merah berisi sweeter merah yang sudah lama kubelikan. Awalnya aku berniat akan memberikannya saat dia ulang tahun nanti. Langkah- langkah kecil itu membawanya pergi dan hilang dari penglihatanku. Sejenak kupejamkan mata dan suara pesawat itu membawanya pergi jauh dariku. Kisahku seperti sinetron yang tak pernah kuduga awalanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin menepati janji-janji itu sampai mengunggu dua tahun lagi kalaupun tuhan mempertemukan kami. Selamat datang kesendirian. Selamat datang kesedihan.
Langganan:
Postingan (Atom)

